22 November 2011

Bawang Putih Mencegah Kerusakan Jantung dan Hati



Jakarta - Aroma wangi bawang putih disukai banyak orang. Apalagi bawang ini bisa membuat makanan jadi lebih enak. Tetapi banyak juga orang yang tidak suka aroma tajamnya. Selain banyak khasiatnya, bawang ini juga bisa mencegah kerusakan sel hati.

Bawang putih merupakan tanaman dari Genus Allium yang digunakan hampir di setiap makanan. Pada bawang putih mentah terdapat senyawa-senyawa sulfur, termasuk zat kimia yang disebut allicin yang membuat bawang ini terasa getir atau angur.

Dalam 100 gram bawang putih, terkandung 71 gram air, 23,1 gram hidrat arang, 4,5 gram protein, 0,20 gram lemak, 0,22 miligram vitamin B1, 15 miligram vitamin C, 134 miligram fosfor, 42 miligram kalsium, dan 1 miligram zat besi.

Sejumlah penelitian juga menyebutkan, bahwa kandungan senyawa sulfur, allicin dan sulfida diallyl atau diallyl trisulfide pada bawang putih ini bisa dijadikan sebagai obat alamisekaligus sebagai antibiotik dan antioksidan alami.

Para ilmuwan menguji senyawa diallyl trisulfide pada bawang putih yang diberikan pada tikus yang berisiko mengalami kerusakan hati akibat tersumbatnya arteri koroner. Pengobatan yang dilakukan sebelum aliran darah dipulihkan ini, menunjukkan adanya perbaikan hampir 2/3 pada jaringan hati yang rusak.

Sebab, senyawa diallyl trisulfide ini menghasilkan hidrogen sulfida rendah yang diketahui bisa melindungi jaringan pada hati. Para peneliti dari Emory University School of Medicine di Amerika mengubah diallyl trisulfide, senyawa dari minyak bawang putih, menjadi zat yang bisa menghasilkan hidrogen sulfida yang juga baik buat jantung.

Umumnya, gas mudah berubah dan tidak stabil sehingga sulit untuk digunakan sebagai alat terapi karena harus disuntikkan. Dengan adanya temuan ini, maka minyak bawang putih bisa dimakan langsung. Para dokter bisa menggunakan diallyl trisulfide dalam banyak situasi sebagaimana temuan para peneliti mengenai penggunaan hidrogen sulfida.

Menurut profesor dari Emory University School of Medicine, David Lefer, timnya sedang melakukan penelitian mengenai obat aktif yang menghasilkan hidrogen sulfida yang bisa diminum. "Hal ini bisa menghindarkan kita dari penyuntikan obat yang mengandung sulfida di luar situasi gawat darurat,” katanya.

Para peneliti menutup aliran arteri koroner tikus selama 45 menit, mensimulasi serangan jantung, dan memberi para tikus tersebut diallyl trisulphide sesaat sebelum aliran darah dipulihkan. Hasilnya, senyawa tersebut bisa menurunkan proporsi kerusakan jaringan jantung di area yang berisiko hingga 61%, dibandingkan dengan hewan yang tidak diobati.

Namun, temuan yang dipresentasikan pada Rabu, 16 November 2011 di pertemuan American Heart Association's Scientific Sessions di Orlando, Florida ini, memerlukan riset lebih lanjut lagi. 'Karena untuk mengetahui kemampuan senyawa diallyl trisulphide yang baik untuk jantung ini perlu riset lebih dalam lagi', demikian ungkap para peneliti.

(Odi/Odi, detikcom)

No comments: